Pada suatu hari tanpa suatu
tanda atau peringatan apapun saya tiba2 pergi menjelajah dan akhirnya terdampar
di suatu padang gurun.
Padang itu sangat indah walaupun hanya ada pasir saja
sejauh apapun mata memandang. ada yang akrab disana. Tak ada suara lain selain
deru pasir ditiup angin. lalu saya mulai berjalan menjelajah gurun yang maha
luas dan tak bertepi itu. Walaupun ada beberapa tikus gurun yang sekejap saja
lewat di depan saya, namun rasa lapar tak kunjung datang. Mereka bergegas masuk
kembali ke liang pasir seperti seorang eksekutif yang selalu didera janji atau
pekerjaannya. Seolah-olah waktu membelitnya bagaikan ular yang mecoba meremukkan
tubuhnya siap untuk memangsanya. Namun mereka hanyalah tikus yang mencoba
mencari tempat berlindung di tengah panasnya gurun.
Kering, seakan-akan tidak
pernah ada yang namanya cinta di dunia ini. Yah, memang tidak pernah ada yang
namanya cinta di gurun ini. Semua hanya berusaha untuk bertahan sambil terus
berusaha mencari apa artinya bertahan. Bertahan untuk tak mati, bertahan untuk
mencari setitik embun yang akan menerangi kehidupan mereka yang gersang.
Kakiku
trus saja bergerak tak mau disuruh diam. Ntah kekuatan apa yang membuatku dapat
terus berjalan tanpa merasa haus ataupun lapar. Satu-satunya penderitaanku adalah
kakiku yang melepuh karena tidak beralas. Tidak, sesungguhnya bukan itu
penderitaanku. Penderitaanku yang sebenarnya adalah sekeras apapun aku mencoba
mengingat arti perjalananku ini, mengapa apa memulainya dan untuk apa, aku
tidak bisa mengingatnya.
Lalu untuk apa aku lanjutkan perjalanan ini? Aku juga
tak tahu. Tapi tak ada hal lain lagi yang dapat kulakukan karena aku sudah
terjebak di sini. Bagaimana mengakhirinya itu yang ingin aku tahu. Tapi akhir
dari sebuah perjalanan pun merupakan awal dari sebuah perjalanan yang lain. Ah,
andai saja aku memiliki kesempatan untuk mengetahui bahwa hidup seperti ini
sebelum aku dilahirkan. Paling tidak aku bisa memilih untuk ada ataupun tidak
dengan segala konsekuensinya.
Apakah aku pengecut jika aku memlilih tidak
pernah dilahirkan karena takut menderita?? Jika ada yang mengatakan bahwa aku
pengecut mereka adalah orang gila. Orang gila yang tak pernah bersentuhan
dengan pahitnya hidup. Yang tidak menyadari bahwa penderitaan terbesar adalah
mengetahui bahwa kehidupan ini tidak akan berujung kemana-mana. Tidak ada
sesuatu yang istimewa darinya sedangkan manusia ada dengan keinginan untuk
menjadi istimewa.
Matahari begitu anggunnya bertengger di ufuk barat
seakan-akan dialah raja dari segalanya. Bagaikan bima yang begitu yakin akan
kekuatannya, begitulah matahari. Yakin dengan pancaran sinarnya yang memberi
kehidupan di bumi. Tak ku lihat ada keraguan sedikitpun pada matahari, semuanya
begitu tegas dan jelas bersamanya. Mungkin karena dia tahu, bagaimanapun tidak berharganya
kehidupan, paling tidak manusia yang menyadarinya masih berharga untuk
diperjuangkan.
Dan akupun masih terus berjalan. Aku memang tidak membawa
apa-apa selain diriku sendiri dalam perjalanan ini karena aku tahu, aku
dilahirkan tanpa memiliki apa-apa, maka akupun akan mati tanpa membawa apa-apa.
Mati? Kata itu menyentakku tiba-tiba? Apa pula kematian itu? Keterpisahan roh
dari tubuh kah? Memangnya apa pula roh itu? tak ada yang benar-benar mengerti
tentang hakikat manusia yang sebenarnya, tapi yang pasti diketahui setiap orang
adalah mereka pasti akan mati suatu saat nanti. Hanya masalah kapan dan
bagaimana. Semuanya menuju pusaran itu, pusaran yang kelam tak terjangkau. Aku
tidak tahu apakah kita butuh keselamatan. Keselamatan dari apa memangnya? Dari
siapa? Dari monster yang senang menyiksa jiwa manusia yang sudah matikah? atau
selamat dari panasnya api neraka?memangnya apa salah manusia dilahirkan
sehingga dia harus dihukum ketika dia mati? Aku sungguh tak paham akan hal ini.
Manusia memang melakukan kejahatan selama hidupnya, membuat orang lain
menderita dan meninggalkan luka di hati sesamanya. Tapi, apa lagi yang bisa dia
lakukan? Dia harusnya menerima hukumannya di sini, di sunia supaya dia bisa
menyadari kesalahannya dan mendapat kesempatan memperbaikinya.
Ah sudahlah, ini
sungguh absurd. Sama absurdnya seperti perjalanan yang sedang kutempuh saat
ini. Sama memuakkan dan memalukannya. Yah, aku terus akan berjalan.
Memperjuangkan ntah apa ku tak tahu. Mungkin mencari cinta. Mungkin juga
mencari mati, jawaban untuk mengakhiri perjalanan ini…