ini cerita, semoga yang terakhir.

kebanyakan orang menyangka bahwa dirinya baik-baik saja.
tapi kenyataannya tidak.
dan saya jadi kecewa dengan dia.

bahkan setiap kali pagi muncul, kita tau kita tidak baik-baik saja.
terlalu banyak hal yang tidak kita tahu
betapa anehnya orang yang menjadi sombong dengan pengetahuan yang dia miliki
apa dia pikir itu cukup?
akankah pernah cukup?

pertaruhan hidup ini seharusnya membuat dia sadar
terlalu banyak ketidakpastian yang tidak dapat direduksi
ke dalam angka

manusia modern adalah putri duyung
(mengutip romo Mangun)
ada sebagian diri kita yang masih hewan!
betapa naifnya orang yang menolak hal itu
dan betapa pongahnya yang merasa bahwa kita adalah anak tuhan

manusia adalah anak alam
jika mau menolaknya
tolak kelahiran alam semesta
dan tolak evolusi
hanya orang buta yang tidak percaya evolusi!
apa kau pikir kita adalah dewa?

manusia bukan dewa dan takkan pernah menjadi dewa
camkan itu saudara!

kebodohan hanya akan menghasilkan penderitaan
dan tidak semua hal terumuskan dalam kata
yang kita butuhkan adalah tuhan perempuan!
bukan allah bapa yang bahkan tak tahu rasanya melahirkan!
bukan tuhan laki-laki yang menghasilkan logika instrumental!

-hannayangsedanginginmenamparwajahorangbodohnanpongah

2 Responses to “ini cerita, semoga yang terakhir.”

  1. oki Says:

    Biarkan saja orang punya pengertian lain tentang tuhan itu seperti apa. Biarkan saja ada yang menganggapnya sebagai bapa, sebagai matahari, sebagai perempuan, sebagai air, sebagai sebagainya. Tapi yang pasti jangan pernah memaksakan zona kenyamanan diri kita ke orang lain. Apa hak kita mengotakatik zona nyaman orang lain, apakah kita bener2 tahu siapa dia dan apa yang terbaik buat dia, apakah kita bener2 peduli, atau itu semua hanya sekedar untuk mendapatkan pengakuan saja kalo zona nyaman yang kita pilih itu tidak salah.
    Zona nyaman bukan sesuatu yang harus diperdebatkan tapi sesuatu yang harus dipertautkan.

  2. hanna Says:

    ini bukan tentang tuhan seperti apa.
    tapi tentang pandangan dunia orang
    yang merasa benar dan padahal ngga
    mau bilang logika instumental tepat?
    ngga kan? mau membela logika itu
    meskipun tahu itu salah?
    yang bener aja ki!
    mau membela kapitalisme yang lahir
    dari logika kristen?
    kalo emang iya, mari lupakan bahwa
    ada yang namanya nila benar-salah
    dan baik-buruk.

Leave a Reply